Kembali ke blog
Tech

Kuliah vs Bootcamp: Mana yang Lebih Baik?

Insight dari pengalaman pribadi tentang memilih jalur belajar IT—kuliah, bootcamp, atau autodidak.

#career #education #kuliah #bootcamp

“Ngga usah kuliah, bootcamp aja bisa kok jadi programmer.”

vs

“Kuliah aja, itu membentuk mental yang baik.”

Keduanya ngga ada yang salah. Tergantung sudut pandang maunya gimana, dan apa yang dituju.

Artikel ini nggak akan mendiskriminasi sudut manapun. Cuma ingin memberikan insight mengenai sebenernya mana yang harus kamu tempuh.

Pilihan vs Nggak Punya Pilihan

Baik berkuliah di jurusan IT maupun bootcamp, itu hanyalah sebuah pilihan. Ya sekedar pilihan yang bisa dipilih oleh orang-orang yang punya pilihan.

Namun, ada juga yang ngga punya pilihan. Bahkan tidak keduanya.

Ngga semua orang punya rezeki yang banyak untuk kuliah. Bayangkan negeri dengan UKT 6 juta per semester aja rasanya membuat ortu ngos-ngosan—apalagi kalo kuliah di prodi kerjasama yang 1 semester 12 juta.

Value dari Kuliah

Universitas merupakan tempat yang baik untuk menempa ilmu. Banyak orang-orang bergelar magister, doktor, hingga professor yang berkumpul di sebuah instansi untuk memberikan materi.

Sebelum bootcamp mulai ngetrend, sekolah tinggi/universitas merupakan satu-satunya jalur untuk menempuh studi pendidikan di bidang IT. Rasanya aneh banget kalo ada anak IT yang ngga punya sarjana.

Tapi waktu berubah.

Pengalaman Pribadi: Kerja Sebelum Lulus

Waktu semester 4, saya sempet mempertanyakan kehidupan selanjutnya. Kala itu saya masih kuliah di venturanya FTUI bernama CCIT. Saya bingung: harus banget lanjut studi ke Poltek Negeri Jakarta atau ngga ya?

Awal tahun 2017, mulai ramai topik tentang anak IT ngga perlu sarjana—bisa diterima asal jago. Omongan tinggal omongan, saya ngga bisa percaya sama sembarangan orang. Kalo saya mau percaya, ya saya harus jajal dulu.

Nekat Kerja dengan Modal CRUD

Jawaban itu saya cari sambil bekerja. Ya saya cukup gila—nekat, tapi ngga bodoh-bodoh amat. Waktu liburan semester 4 ke 5 saya bekerja dengan modal CRUD Laravel doang.

Saya melamar di salah satu perusahaan yang ditempel di mading kampus. Ternyata tempat senior saya tahun 2011-2013 bekerja juga. Dengan modal nekat dan computational thinking, jam terbang yang terus berkembang hampir setiap hari, saya nekat ngelamar.

Interview tahap pertama: dibombardir pertanyaan-pertanyaan basic ala HR.

Test: bikin API CRUD + Autentikasi JWT Token pake Laravel. Dalam hati saya: “ah ini gampang banget, makanan dari kemaren.”

Seminggu kemudian dipanggil lagi. Langsung ketemu User alias Senior Engineer—ternyata alumni saya. Kita jadi ngobrol dan saya bisa jawab lancar tanpa gemeteran.

Akhirnya ketemu langsung CEO + Founder. Deal deh gajinya: 4.5 juta per bulan. Kaget juga—belum sarjana tapi dioffer gaji segitu dengan task sebagai web developer pake Laravel.

Bukti: Ada Perusahaan yang Nggak Mementingkan Sarjana

Senior engineer saya pun belom sarjana—skripsinya mandek karena dia sibuk bekerja. Disitu saya mikir: literally emang “ada” perusahaan yang ngga mementingkan sarjana.

Kenapa gitu? Karena sebelumnya ada perusahaan yang ijazah saya harus ditahan—itu bukan saya banget, jadi saya mundur.

2017 berlalu dengan saya bekerja satu bulan aja. Hingga cuti di awal semester 6 (Februari 2018) saya alhamdulillah masih diterima meski belum sarjana di perusahaan startup konten (lagi)—dengan gaji naik ke level 6 juta.

Mamah saya waktu itu insecure kalo saya ngga bakalan dapet gaji lebih banyak dari UMR Jakarta. Akhirnya saya tutup mulut beliau pake pembuktian. 😄

Kata-kata yang Menempel

Boss saya—yang sampe sekarang masih jadi boss saya—bilang:

“Selama lo mau usaha untuk bisa, ya lo akan kejar dan raih itu.”

Yang gue tangkep: ngga penting lo mau sarjana apa ngga, kalo lo males ya lo ngga akan dapat apapun.

Bootcamp Mulai Menjamur

Bootcamp mulai bener-bener ramai di tahun 2018. Saya ngeliat yang ditawarin bootcamp apa aja sih—terutama yang mulai eksis kala itu.

Kesimpulan

Kuliah dan bootcamp itu cuma pilihan. Yang penting adalah:

  1. Kemauan untuk belajar — Apapun jalurnya, kalo nggak niat ya sama aja
  2. Konsistensi — Belajar terus-menerus, nggak cuma pas di kelas/bootcamp
  3. Buktikan — Jangan cuma denger omongan orang, buktiin sendiri

Saya sendiri membuktikan bahwa kerja sebelum lulus itu bisa—asal punya modal skill yang cukup dan berani ngebuktiin.

Pilihan ada di tanganmu. Kuliah, bootcamp, atau autodidak—semua bisa jadi programmer yang jago asal ada usahanya.