Dari Mahasiswi 18 Tahun Jadi Product Manager: Cerita Membimbing Generasi Muda
Pengalaman saya membimbing seorang mahasiswi berusia 18 tahun belajar programming dan keluar dari zona nyamannya.
Oke, malam minggu ini saya mau sharing pengalaman seru tentang gimana saya membimbing seorang anak perempuan berusia 18 tahun belajar programming dan keluar dari zona nyamannya. Sekarang dia udah 19 tahun dan sudah dipercaya sebagai product manager. ☺️
Awal Cerita
Sebenarnya saya nggak “mendidik” dalam arti yang kaku. Saya lebih ke mengarahkan. Dia memilih jalur mobile developer Android sebagai fokus utama, jadi saya titipin ke sahabat saya yang juga co-founder startup. Tapi overall, saya yang ngebentuk kepemimpinannya.
Jadi meskipun sekarang dia kerja sebagai product manager, dia tetap punya kemampuan software engineer—khususnya mobile Android development. Meski masih level junior, logic-nya udah oke. Buktinya? Dia udah nyoba pattern VIPER di mobile.
Konteksnya
Waktu itu saya masih ngajar sebagai staff pengajar di sebuah kampus ventura. Usia saya masih 21 tahun—literally cuma beda 3 tahun sama dia.
Saat itu saya juga dapet side mission dari kantor: naik jadi engineering manager yang ditugasin ngebentuk tim. Karena timnya belum ready, saya diminta untuk scouting talent dulu.
Saya ditempatkan megang satu kelas dengan 24 mahasiswa/i. Dari hari pertama, saya selalu berusaha ngasih impresi baik—karena selain suka public speaking, saya juga suka berbagi ilmu.
Menemukan Bibit Unggul
Awalnya saya hampir kebingungan. Nyaris nggak ada yang menonjol. Tapi tiba-tiba ada satu perempuan yang beda—attitude-nya sopan banget, dan nggak keliatan caper-caper amat.
Yang bikin saya tertarik: dia sanggup bekerja sendirian dalam kelompok di mana dua anggota laki-lakinya nggak bisa diharapkan. Pas saya tanya, dia bilang udah bagi tugas, tapi mereka malah memperlambat progress.
Saya lihat hasil kerjaannya: well, not bad untuk seorang perempuan di bidang yang masih didominasi laki-laki. Bukan soal sexisme ya, tapi memang masih banyak perempuan yang struggle di programming dibandingkan pria.
Pendekatan Psikologi
Hal pertama saya lakukan: pendekatan psikologi. Jeng jeng jeng~
Saya coba ngechat dia. Bukan buat modus ya—kita beda server juga sih (HAHAHA). Kita melakukan beberapa komunikasi, dan kebetulan posisi saya diuntungkan waktu itu.
Saya dianggap figur yang tepat sebagai pengajar muda: usia 21, udah kerja dengan gaji yang oke, punya startup, dan bisa ngajar. Makanya saya punya charisma untuk menyebarkan filosofi pendidikan.
Gaya ngajar saya juga digemari mahasiswa karena:
- Absennya nyantuy
- Nggak kaku-kaku amat
- Selalu ada intermezzo 10-20 menit sebelum kelas
Intermezzo-nya isinya cerita tentang apapun yang membuka insight mahasiswa tentang IT—teori atau knowledge yang nggak ada di kampus.
Membuka Percakapan
Akhirnya si mahasiswi ini luluh juga. Mau saya ajak ngobrol via call, diskusi tentang IT. Dia curhat pengen minta dibimbing harus ke arah mana melangkah, dan bilang saya bisa jadi panutan.
Aduh, jimalu. 😳
Tapi tenang, saya orangnya professional. Saya nggak mau macarin mahasiswi sendiri—cukup idealis + professional. Nggak mau merusak citra dan nama baik di kampus.
The Real Struggle
Dia cerita kalau dia bukan orang yang banyak duit. Laptopnya… ya ala kadarnya lah. Tapi semangat juangnya tinggi banget. Dengan laptop yang pas-pasan, punya semangat belajar yang tinggi itu udah keren. Pasti ngelag, lemot, crash, blue screen—tapi nggak membuat semangat belajar turun. Itu jiwa pejuang yang bener-bener pejuang.
Mengarahkan Kepemimpinan
Saya ajak dia jalan beberapa kali biar lebih deket dan bisa sisipin diskusi. Terus ada pemilihan ketua UKM yang pernah saya jadi ketua di sana.
Saya bilang: “Kamu coba gih apply jadi ketua.”
“Tapi saya ngga capable pak, malu.”
“Bisa kok, cobain dulu. Emang udah pernah nyoba?”
“Engga sih.”
“Nah yaudah makanya cobain.”
Saya kasih bimbingan: trik cara ngomong yang bener pas debat, program yang baik, susunan anggota yang tepat beserta alasannya.
Hasilnya
Ini cewe tipikal mental baja. Dia sadar: “Keluarga gue bukan keluarga sultan, dan gue anak pertama. Kalo gue ngga fighting buat diri gue, ntar siapa yang mau nanggung kesalahan gue?”
Akhirnya dia fighting. Belajar jadi debat, memahami program-program kerja, mulai ngeliat struktur organisasi kampus. Dan berhasil.
Pelajaran yang Bisa Diambil
- Attitude is everything — Sopan dan rendah hati itu penting
- Semangat > Spesifikasi — Laptop jelek bukan penghalang kalau niatnya kuat
- Keluar dari zona nyaman — Berani coba hal baru meski nggak yakin
- Mental baja — Fighting untuk diri sendiri dan keluarga
Penutup
Membimbing orang itu bukan cuma soal ngasih tahu technical skill. Lebih dari itu, soal membentuk karakter dan kepemimpinan. Saya senang melihat orang lain berkembang, karena saya juga pengen ada seseorang yang at least mirip semangatnya seperti saya.
Siapa tahu dari satu orang yang kita bimbing, bisa jadi beribu-ribu orang lain yang terinspirasi.